Beberapa Teknologi Pencegah Banjir di Sejumlah Negara

oleh -1.158 views
Penampakan Themes Barrier. (Foto: infokomputer.grid.id)
Penampakan Themes Barrier. (Foto: infokomputer.grid.id)
Bagikan:

Jakarta – Saat musim hujan, banjir tidak hanya melanda kawasan DKI Jakarta dan sekitarnya.

Beberapa negara maju pun juga mengalami hal yang sama, seperti Jepang, Inggris, hingga Belanda.

Oleh karena itu, beberapa insiyur dari negara-negara tersebut mengembangkan teknologi untuk mengendalikan banjir yang dapat ditiru bahkan dikembangkan oleh insiyur di Indoensia.

Berikut beberapa teknologi pengendali banjir yang ada di sejumlah negara:

READ  NASA Rugi, Robot InSight Gagal Jalankan Misi Gali Permukaan Mars

1. Belanda

60 persen daratan di Belanda berada di bawah permukaan laut. Oleh karena itu, sistem pengendalian banjir menjadi hal yang sangat penting di negara ini.

Sejak tahun 1950 hingga 1997, Belanda telah membangun Deltawerken (Delta Works), jaringan bendungan, pintu air, kunci, tanggul, dan penghalang gelombang badai yang sangat canggih.

Salah satu proyek Deltaworks yang paling mengagumkan adalah Penghalang Gelombang Badai Scheldt Timur atau Oosterschelde. Bukan membangun bendungan konvensional, Belanda justru membangun penghalang dengan gerbang yang bisa digerakkan.

Sejak Oosterschelde selesai dibangun pada 1986, ketinggian pasang surut berkurang dari 3,40 meter menjai 3,25 meter.

Proyek lain Deltaworks di negara tersebut, adalah Maeslantkering atau Maeslant Storm Surge Barrier, di jalur air Nieuwe Waterweg antara kota Hoek van Holland dan Maassluis.

READ  Hapus Aplikasi Berikut Jika Ingin Ponsel Tetap Aman

Maeslant Storm Surge Barrier merupakan bangunan bergerak terbesar di dunia yang selesai dibangun pada 1997.

Saat air naik, dinding yang terkomputerisasi menutup dan air mengisi tangki di sepanjang penghalang. Berat air mendorong dinding dengan kuat ke bawah dan mencegah air melewatinya.

Teknologi pencegah banjir lain yang di miliki Belanda adalah bendungan Hagestein Weir. Bendungan ini merupakan satu dari tiga bendungan yang dapat dipindahkan di sepanjang sungai Rhine. Bendungan ini memiliki dua gerbang melengkung yang sangat besat untuk mengontrol air.

Teknologi yang diterapkan di bendungan Hagestein Weir ini bahkan telah diadaptasi oleh insinyur di seluruh dunia untuk mengontrol air. Salah satunya, Amerika Serikat (AS) diketahui telah mengadaptasi teknologi ini dan diterapkan untuk mencegah banjir di Pulau Rhode akibat Badai Sandy.

2. Inggris

Di Inggris, para insinyur merancang penghalang banjir di sepanjang Sungai Thames. Penghalang ini terbuat dari baja berlubang. Gerbang air ini biasanya dibiarkan terbuka saat kapal melewatinya, dan akan segera ditutup untuk menghentikan aliran air dan menjaga tingkat Sungai Thames tetap aman.

Gerbang air ini telah dibangun dari tahun 1974 hingga 1984,dan telah ditutup untukmencegah banjir lebih dari 100 kali.

Selain itu, para insinyur Inggris juga telah berinovasi dengan mambangun penghalang luapan air yang menggantikan karung pasir. Penghalang ini bisa dinaikan dan diturunkan ketika dibutuhkan.

3. Jepang

Jepang diketahui memiliki sejarah banjir yang panjang. Area pantai dan di sepanjang sungai yang mengalir deras di Jepang sangat berisiko. Untuk melindungi wilayahnya dari banjir, para insinyur Jepang telah mengembangkan sistem kanal dan kunci pintu air yang kompleks.

Dilansir dari JapanGov, pemerintah Jepang menggunakan radar untuk memindai awan hujan dalam bentuk 3 Dimensi (3D) untuk melindungi kereta bawah tanah dari Banjir. Intinya, teknologi itu memanfaatkan Precipitation Radar, salah satu instrumen meteorologi tercanggih di dunia yang dikembangkan oleh Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA).

Dengan memancarkan gelombang radio dalam dua frekuensi yang berbeda, Precipitation Radar dapat mengukur distribusi hujan dalam 3D. Teknologi ini diklaim mampu memprediksi banjir sampai tingkat tertentu, dan pada akhirnya teknologi ini mendukung evakuasi penduduk dari area berisiko dan membuat kereta bawah tanah tetap beroperasi dengan optimal.

READ  Telegram Luncurkan Fitur Terbaru Bagi Pengguna Android dan iOS

Sebelumnya, diketahui Jepang telah menggunakan mekanisme antiflooding untuk menyegel saluran ventilasi yang menarik udara dari permukaan jakan di luar kereta bawah tanah.

Dulu model ini diklaim mampu menahan tekanan air setara dengan kedalam dua meter, namun teknologi terbaru dilaporkan mampu menahan air hingga enam meter. Teknologi terbaru ini telah dipasang di area dengan risiko banjir yang tinggi.

Jepang juga membuat pintu kedap air di terowongan kereta api bawah tanahn yang dapat meminimalkan gangguan terhadap layanan kereta api bawah tanah.

4. Venesia

Venesia menjadi salah satu negara yang merasakan secara langsung dampak dari pemanasan global. Kawasan yang ikonik dengan kanalnya ini harus rela menggelontorkan dana besar untuk mencegah banjir akibat meningkatnya debit air.

Venesia pun membangu Modulo Sperimentale Elettromeccanico atau proyek MOSE, 78, penghalang yang dapat naik secara kolektif atau sendiri-sendiri melintasi bukaan laguna dan membatasi naiknya Laut Adriatik. (Zak/IJS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *